Kupang, lldikti15.kemdiktisaintek.go.id – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV menggelar rapat koordinasi untuk mematangkan program “Mahasiswa Berdampak” melalui KKN Tematik Gentaskin (Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem) Batch 2 Tahun 2026. Program strategis ini ditargetkan mampu melibatkan sekitar 2.000 mahasiswa untuk diterjunkan ke 135 desa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rapat yang dilaksanakan di Aula LLDIKTI XV pada Kamis, 29 Januari 2026, dihadiri oleh Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah XV Agustinus M.B.P. Fahik, para Ketua Tim Kerja dan PIC LLDIKTI XV, perwakilan UNICEF, perwakilan Bapperida Provinsi NTT, perwakilan Bank Indonesia, perwakilan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta, serta berbagai mitra dan pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Bagian Umum LLDIKTI XV Agustinus M.B.P. Fahik, menyampaikan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan tahun sebelumnya yang mendapat apresiasi langsung dari Gubernur NTT dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menekankan bahwa pemilihan lokasi desa kali ini didasarkan pada data akurat dari Dinas Kesehatan dan Bapperida Provinsi NTT untuk memastikan intervensi tepat sasaran pada wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT menekankan pentingnya sinkronisasi data lokasi dan potensi inovasi di tingkat desa. Pihak Bapperida menyoroti bahwa pemilihan lokasi harus selaras dengan indeks pembangunan desa.
“Terkait dengan lokus desa, kami melihat irisan antara data kemiskinan ekstrem dan indeks pembangunan desa tertinggal serta sangat tertinggal di 150 desa yang ada,” ujar Sekretaris Bapperida Provinsi NTT, Theresia Maria Florensia.
Lebih lanjut, Theresia berharap kehadiran mahasiswa dapat menjadi motor penggerak inovasi daerah. “Melalui program Gentaskin ini, mahasiswa diharapkan dapat membantu kami menemukan inovasi-inovasi yang dibuat oleh masyarakat di lokus desa, sekaligus memotret potensi ekonomi yang ada”, ujarnya.
Program ini diperkuat dengan keterlibatan lembaga internasional dan sektor perbankan. Kepala UNICEF NTT, Yudi Yewangoe, menyatakan komitmennya untuk mendukung mahasiswa sebagai agen perubahan di lapangan. UNICEF menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai komunikator masyarakat dalam menyampaikan pesan-pesan kunci terkait nutrisi dan sanitasi.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) NTT melalui perwakilannya, Teguh Ersada Natail Sitepu memberikan dukungan melalui program digitalisasi. Fokus kolaborasi dengan Bank Indonesia diarahkan pada akseptasi transaksi digital di tingkat desa serta peningkatan literasi keuangan masyarakat melalui keterlibatan mahasiswa dalam kunjungan ke lapangan.
Keterlibatan aktif Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi pilar utama dalam kesuksesan program ini. Wakil Rektor I Unika Widya Mandira Kupang Dr. Samuel Igo Leton, M.Pd menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu atau Interprofessional Education and Collaboration.
”Kami sangat mendukung keterlibatan dalam kegiatan ini karena sejalan dengan program kami mengenai edukasi dan kolaborasi antar-profesi, sehingga dampak yang diperoleh mahasiswa saat turun ke lapangan benar-benar nyata,” ungkapnya.
Satu tim di desa akan terdiri dari mahasiswa berbagai universitas (PTN dan PTS) yang berbagi peran sesuai keahlian masing-masing. Program ini juga menarik minat internasional, di mana Universitas Brawijaya berencana mengirimkan 60 mahasiswa dari Australia untuk bergabung dalam program KKN ini.
Mahasiswa akan fokus pada lima pilar utama: edukasi gizi, pengembangan ekonomi lokal, sanitasi, literasi, dan penerapan teknologi tepat guna.
Rapat juga membahas rencana peluncuran program dalam waktu dekat, tahapan seleksi dan penetapan lokasi desa, pembekalan mahasiswa, pelaksanaan lapangan hingga monitoring dan evaluasi program. Seluruh pihak diharapkan tidak hanya terlibat pada tahap perencanaan, tetapi juga berperan aktif dalam pengawalan dan keberlanjutan program.
Melalui KKN Tematik Gentaskin, LLDIKTI Wilayah XV menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dan berdampak, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penuntasan stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur.